Archive for 2017
DHCP Server dan DHCP Client
By : Unknown
DHCP ( Dynamic Host Configuration Protocol )
Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) merupakan service yang memungkinkan perangkat dapat mendistribusikan/assign IP Address secara otomatis pada host dalam sebuah jaringan. Cara kerjanya, DHCP Server akan memberikan response terhadap request yang dikirimkan oleh DHCP Client.
Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) merupakan service yang memungkinkan perangkat dapat mendistribusikan/assign IP Address secara otomatis pada host dalam sebuah jaringan. Cara kerjanya, DHCP Server akan memberikan response terhadap request yang dikirimkan oleh DHCP Client.
Selain IP Address, DHCP juga mampu mendistribusikan informasi netmask, Default gateway, Konfigurasi DNS dan NTP Server serta masih banyak lagi custom option (tergantung apakah DHCP client bisa support).
Mikrotik dapat digunakan sebagai DHCP Server maupun DHCP Client atau keduanya secara bersamaan. Sebagai contoh, misalnya kita berlangganan internet dari ISP A. ISP A tidak memberikan informasi IP statik yang harus dipasang pada perangkat kita, melainkan akan memberikan IP secara otomatis melalui proses DHCP.
Mikrotik sebagai DHCP Client
Dalam kasus ini, untuk dapat memperoleh alokasi IP Address dari ISP, yang nantinya dapat digunakan untuk terkoneksi ke internet, kita bisa menggunakan fitur DHCP Client. Langkah-langkah pembuatan DHCP Client dapat dilakukan pada menu IP -> DHCP Client -> Add.
Sampai langkah ini, seharunya Router sudah bisa akses ke internet. Selanjutnya lakukan setting DHCP Server untuk distribusi IP Address ke arah jaringan lokal /LAN.
Mikrotik sebagai DHCP Server
Konfigurasi DHCP Server dapat dilakukan pada menu IP > DHCP Server > Klik DHCP Setup . Pastikan seperti gambar dibawah ini.
Kemudian klik Next, sampai pada Lease Time. karena secara otomatis pengaturan Winbox anda tersetting otomatis. Jika ingin mengedit. silahkan edit sesuai kebutuhan anda.
Untuk melakukan percobaan, hubungkan PC ke ethernet2 kemudian ubah pengaturan IP PC pada posisi "obtain an IP address automatically" .
Seharusnya Laptop akan mendapatkan assign IP otomatis dari Router. Perhatikan expired time, seharusnya sama dengan parameter Lease-Time yang sudah ditentukan pada DHCP Server.
Perbedaan DHCP client dan DHCP server
Komputer yang bertugas memberikan alamat IP secara otomatis kepada komputer client disebut dengan DHCP server. Sedangkan komputer yang meminta alamat IP disebut dengan DHCP client.
Keuntungan menggunakan layanan DHCP
- Tidak perlu memberikan/ mengkonfigurasi alamat IP kepada client satu per satu
- Mencegah terjadinya IP conflict yang sering terjadi pada suatu jaringan
- Dengan layanan DHCP, komputer client dapat menggunakan alamat IP dalam jangka waktu tertentu (tergantung pemberian server)
- Komputer client dapat menggunakan suatu alamat IP yang tidak dipakai oleh komputer client yang lain
- Selain itu, dengan adanya DHCP, kita dapat mengintegrasikan suatu mesin (host) ke dalam suatu jaringan, karena nantinya mesin tersebut akan mendapat alamat IP juga melalui pooling yang sebelumnya telah dibuat oleh server.
Setting Routerboard MikroTik
By : Unknown
DHCP Client dan Server MikroTik
Pada router MikroTik terdapat fitur yang berfungsi untuk manajemen distribusi IP Address, yaitu DHCP (Dynamic Host Confguration Protocol). Diantara fitur DHCP yang sudah didukung oleh MikroTik antara lain DHCP Server, DHCP Client dan DHCP Relay. Mungkin diantara kita sudah tidak asing lagi dengan DHCP Server dan juga DHCP Client pada MikroTik karena kedua fitur ini memang sering digunakan dalam konfigurasi jaringan. Namun diantara kita ada yang bertanya-tanya apakah fungsi dari DHCP Relay pada Mikrotik?
LAYOUT ROUTER GATEWAY
Pada router MikroTik terdapat fitur yang berfungsi untuk manajemen distribusi IP Address, yaitu DHCP (Dynamic Host Confguration Protocol). Diantara fitur DHCP yang sudah didukung oleh MikroTik antara lain DHCP Server, DHCP Client dan DHCP Relay. Mungkin diantara kita sudah tidak asing lagi dengan DHCP Server dan juga DHCP Client pada MikroTik karena kedua fitur ini memang sering digunakan dalam konfigurasi jaringan. Namun diantara kita ada yang bertanya-tanya apakah fungsi dari DHCP Relay pada Mikrotik?
LAYOUT ROUTER GATEWAY
1. Hubungkan Routerboard dengan kabel LAN Anda, kemudian buka Winbox,
2. Kemudian, anda akan dibawa ke halaman utama Winbox, kemudian klik IP lalu Address. ketik IP anda.
3. Kemudian klik OK lalu anda pergi ke halaman IP lalu ke DHCP Client, pastikan pada ethernet1. langsung klik OK saja.
4. Kemudian setting DHCP Servernya, IP > DHCP Server > DHCP Setup. pilih ke ethernet2
5. Kemudian Klik Next, sampai pada Lease Time. karena secara otomatis pengaturan Winbox anda tersetting otomats. Jika ingin mengedit. silahkan edit sendiri sesuai kebutuhan IP Anda.
6. Kemudian, Klik OK. lalu pergi ke Open Network and Sharing Center. lalu klik Change Adapter Setting
7. Kemudian, lanjut Klik Network anda, kemudian Disable/Enable-kan, maka otomatis IP pada komputer anda akan tersetting
8. Untuk mengechek apakah komputer sudah terhubung, lakukan koneksi PING. Seperti gambar dibawah.
IP Address dan Subnetting
By : UnknownIP Address
Pengertian IP Address
NetworkID menunjukkan ID alamat jaringan tempat host-host berada, sedangkan hostID adalah bagian yang menunjukkan host itu berada. Sederhananya, networkID seperti nama jalan sedangkan hostID adalah nomor rumah dijalan tersebut.
Guna memudahkan dalam pembagiannya maka IP address dibagi-bagi ke dalam kelas-kelas yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
1. Kelas A
IP address kelas A terdiri atas 8 bit untuk network ID dan sisanya 24 bit digunakan untuk host ID, sehingga IP address kelas A digunakan untuk jaringan dengan jumlah host sangat besar. Pada bit pertama diberikan angka 0 sampai dengan 127.
Karateristik IP Kelas A
- Bit pertama : 0
- NetworkID : 8 bit
- HostID : 24 bit
- Oktet pertama : 0 - 127
- Jumlah network : 126 (untuk 0 dan 127 dicadangkan)
- Rentang IP : 1.x.x.x - 126.x.x.x
- Jumlah IP address : 16.777.214
2. Kelas B
IP address kelas B terdiri atas 16 bit untuk network ID dan sisanya 16 bit digunakan untuk host ID, sehingga IP address kelas B digunakan untuk jaringan dengan jumlah host tidak terlalu besar. Pada 2 bit pertama, diberikan angka 10.
Karakteristik IP Kelas B
Format : 10NNNNNN. NNNNNNNN.HHHHHHHH.HHHHHHHH
- Bit pertama : 10
- NetworkID : 16 bit
- HostID : 16 bit
- Oktet pertama : 128 - 191
- Jumlah network : 16.384
- Rentang IP : 128.1.x.x - 191.255.x.x
- Jumlah IP address : 65.534
3. Kelas C
IP address kelas C terdiri atas 24 bit untuk network ID dan sisanya 8 bit digunakan untuk host ID, sehingga IP address kelas C digunakan untuk jaringan berukuran kecil. Kelas C biasanya digunakan untuk jaringan Local Area
Network atau LAN. Pada 3 bit pertama, diberikan angka 110.3
Format : 110NNNNN.NNNNNNNN. NNNNNNNN.HHHHHHHH
- Bit pertama : 110
- NetworkID : 24 bit
- HostID : 8 bit
- Oktet pertama : 192 - 223
- Jumlah network : 2.097.152
- Rentang IP : 192.0.0.x - 223.255.225.x
- Jumlah IP address : 254
Kelas IP address
Kelas IP Address lainnya adalah D dan E, namun kelas IP D dan E tersebut tidak digunakan untuk alokasi IP secara normal tetapi digunakan untuk IP
multicasting dan untuk eksperimental.
Kelas IP Address lainnya adalah D dan E, namun kelas IP D dan E tersebut tidak digunakan untuk alokasi IP secara normal tetapi digunakan untuk IP
multicasting dan untuk eksperimental.
Berikut ini tabel Jumlah NetworkID dan HostID
Subnet Mask
Nilai subnet mask berfungsi untuk memisahkan network ID dengan host
ID. Subnet mask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan, apakah jaringan yangdimaksud adalah jaringan lokal atau nonlokal. Untuk jaringan Nonlokal berarti TCP/IP harus mengirimkan paket data melalui sebuah Router. Dengan demikian, diperlukanaddress mask untuk menyaring IP address dan paket data yang keluar masuk jaringan tersebut.
ID. Subnet mask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan, apakah jaringan yangdimaksud adalah jaringan lokal atau nonlokal. Untuk jaringan Nonlokal berarti TCP/IP harus mengirimkan paket data melalui sebuah Router. Dengan demikian, diperlukanaddress mask untuk menyaring IP address dan paket data yang keluar masuk jaringan tersebut.
Network ID dan host ID didalam IP address dibedakan oleh penggunaan subnet mask. Masing-masing subnet mask menggunakan pola nomor 32-bit yang merupakan bit groups dari semua satu (1) menunjukkan network ID dan semua nol (0) menunjukkanhost ID dari porsi IP address.
Sebagai contoh, alamat kelas B: 170.203.93.5
bilangan binernya adalah: 10101010 11001011 01011101 00000101
Subnet mask default untuk alamat kelas B adalah: 11111111 11111111 00000000 00000000
Bisa juga ditulis dalam notasi desimal: 255.255.0.0
Berikut ini tabel subnet mask internet address
Subnetting
Subnetting merupakan teknik memecah network menjadi beberapa subnetwork yang lebih kecil. Subnetting hanya dapat dilakukan pada IP addres kelas A, IP Address kelas B dan IP Address kelas C. Dengan subnetting akan menciptakan beberapa network tambahan, tetapi mengurangi jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.
Beberapa alasan perlunya melakukan subnetting, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP Address
- Mengatasi masalah perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan daam suatu network, karena Router IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
- Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam suatu network.
Penghitungan subnetting
Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Berarti /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0).
VLSM (Variable Leght Subnet Mask).
VLSM adalah pengembangan mekanisme subnetting, dimana dalam VLSM dilakukan peningkatan dari kelemahan subnetting klasik, yang dimana dalam clasik subnetting, subnet zeroes dan subnet ones tidak bisa digunakan, selain itu, dalam subnet klasik, lokasi nomor IP tidak efisien.
Dalam penggunaan metode VLSM, sangat diperlukan penguasaan tentang blok-blok kelas IP. Untuk kelas C perhatikan tabel berikut ini
Subnet
|
Mask
|
Subnets
|
Hosts
|
Block
|
/25
|
128
|
2
|
126
|
128
|
/26
|
192
|
4
|
62
|
64
|
/27
|
224
|
8
|
30
|
32
|
/28
|
240
|
16
|
14
|
16
|
/29
|
248
|
32
|
6
|
8
|
/30
|
252
|
64
|
2
|
4
|
CIDR (Classless Inter-Domain Routing).
Classless Inter-Domain Routing, adalah sebua cara alternatif untuk mengklarifikasikan alamat IP berbeda dengan sistem klarifikasi ke dalam kelas A,B,C,D dan E. Disebut juga supernetting CIDR merupakan mekanisme routing dengan membagi alamat IP jaringan.
Berikut ini table CIDR
A. Subnetting pada IP Address Class A
Network address 10.0.0.0/16. Artinya 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan:
- Jumlah Subnet= 2x , dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 3 oktet terakhir subnet mask (1 oktet terakhir untuk kelas C, 2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi jumlah Subnet adalah 28 = 256 subnet
- Jumlah Host per Subnet= 2y- 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 3 oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah Subnet= 216 - 2 = 65534
- host Blok Subnet= 256 - 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, dll.
Berikut Tabel Subnetting IP Address Class A
B. Subnetting pada IP Address Class B
Network address 172.16.0.0/18. Artinya 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).
Penghitungan:
- Jumlah Subnet= 2x , dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
- Jumlah Host per Subnet= 2y - 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214- 2 = 16.382 host
- Blok Subnet= 256 - 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
Berikut table Subnetting IP Address Class B
C. Subnetting pada IP Address Class C
Misalnya Network address 192.168.1.0/26, artinya kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).
Langkah penyelesaiannya:
- Jumlah Subnet= 2x , dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (1 oktet terakhir untuk kelas C, 2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
- Jumlah Host per Subnet= 2y- 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 - 2 = 62 host
- Blok Subnet= 256 - 192 = 64 (192 adalah nilai oktet terakhir subnet mask). Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
- Alamat host dan broadcast yang valid. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
Berikut table Subnetting IP Address Class C









